Rabu, 08 April 2009

Akar yang Berhati Mulia dan Daun yang Iri Hati

Iri Hati
Yakobus 3:16
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Tujuan Pengajaran
Agar anak-anak menjauhi sikap iri hati, ingin menang sendiri, tidak toleran, mementingkan diri sendiri, dan sikap tidak mengasihi.

Pohon mangga yang ada di halaman rumah Zakky begitu rimbun dan rindang. Daunnya yang lebat terurai sampai ke seluruh cabang. Warnanya pun begitu menyenangkan dan sedap dipandang. Hijau. Lebat.
Tidak hanya daunnya yang membuat mata tidak jemu memandangi pohon mangga itu. Buahnya pun seakan-akan bersamaan muncul, saat mendekati musim datang. Rasanya? Wow, manis dan lezaaaat.
Seluruh anggota keluarga Zakky, baik Papa dan Mama, Kakak dan Adik Zakky, begitu menyayangi pohon mangga ini. Tidak hanya keluarga ini, orang-orang di sekitar rumah Zakky pun merasakan manfaat kehadiran pohon mangga ini.
Ketika kemarau datang menjelang dan ketika orang-orang yang berlalu lalang di depan pohon ini mulai kepanasan karena sinar matahari yang begitu menyengat, maka mereka berduyun-duyun berteduh di bawah rindang daunnya. Dan ketika hujan mengguyur bumi, orang yang ada di sekitar pohon juga mampir untuk berlindung agar tidak basah kuyup karena kehujanan.
Pendeknya, kehadiran pohon mangga di halaman rumah Zakky benar-benar mendatangkan berkat bagi siapa saja.
Tetapi tiba-tiba . . .
Zakky berjalan mendekati pohon mangga sambil matanya terus memandangi pohon itu. Alis matanya mulai mengernyit, tandanya dia sedang berpikir keras.
“Ah! Kenapa pohon ini mulai menguning daunnya? Padahal dia dan papanya rajin menyirami dengan air,” tanya Zakky dalam hati.
Ya. Pohon mangga itu mulai menguning daun-daunnya. Bahkan di beberapa cabang mulai ada yang berguguran. Rontok.
Keluarga Zakky mulai mencangkuli tanah di sekitar pohon mangga itu berdiri. Tidak hanya itu. Siraman air segar mengguyur di tanah sekitar pohon mangga berdiri. Tetapi . . .
Pohon itu semakin meranggas. Semakin gundul. Bahkan kulit di batangnya sudah ada beberapa yang mulai mengelupas.
Pohon mangga yang menyenangkan itu mendekati kematian.
Ada apa dengan pohon mangga ini?
Oho! Ternyata ada sesuatu yang terjadi. Ada pertengkaran di “tubuh” pohon mangga.
“Ah, kamu ini enak-enakan di bawah. Kamu selalu terlindungi dari panas dan hujan!” teriak Daun dengan nada tinggi.
“Ada apa Daun?” tanya Batang dengan sabar.
“Lihat tuh Akar! Dia tidak pernah kepanasan. Tidak pernah kehujanan! Sedangkan aku! Aku kepanasan dan kehujanan setiap hari. Bahkan tak jarang, kotoran burung-burung menjatuhi tubuhku. Ini benar-benar tidak adil!” keluh Daun dengan memelas.
Rupanya, Akar yang sedari tadi diam toh akhirnya angkat bicara. Sebanarnya sejak tadi dia mendengar ocehan pongah dari Daun. Tetapi dia tetap berusaha menahan hati agar tidak ikut-ikutan marah. Akar berusaha untuk tidak tersinggung.
“Ada apa sahabatku?” kata Akar lembut.
“Jangan pura-pura tidak tahu! Jangan sok alim! Kamu enak-enakan. Sikap lembutmu ternyata menindas dan menginjak-injak keberadaan temanmu sendiri. Ini tidak adil!” suara parau Daun semakin meninggi.
Suasana panas terjadi di tubuh pohon Mangga. Daun si biang keributan benar-benar mulai memancing pertengkaran.
“Oke. Sekarang maumu apa?” tanya Batang dengan suara berwibawa tetapi tetap tenang.
“Aku menuntut keadilan,” jawab Daun dengan pongah dan sombong.
“Keadilan yang bagaimana?” kembali Batang bertanya.
“Aku akan berhenti memasak. Aku ingin bertukar tepat dengan Akar. Biar dia merasakan panas teriknya matahari dan dinginnya angin malam!” kata Daun sengak.
“Lho, bukankah sejak kita diciptakan dalam keadaan seperti ini?” kata Akar mencoba mengingatkan Daun.
Daun diam. Dia mencibirkan bibirnya.
“Emang gue pikirin!” gumam Daun pelan.
“Iiih capek deh!” kata Batang sambil menepuk dahinya.
Lho, Batang apa punya dahi ya? Ah nggat apa-apa, lha cuma cerita kok.
“Baik-baik. Baiklah temanku Daun. Aku bersedia bertukar tempat dan bertukar tugas dengan kamu. Meskipun tugasku sebelumnya mencari makanan dan kamu yang memasak makanan untuk dikirimkan ke Cabang-cabang, aku bersedia menggantikan posisimu. Aku rela kok,” kata Akar dengan santun dan lembut.
“Ha ha ha! Nah begitu! Itu namanya sportif. Adil! Hahaha hahaha aku akan menikmati hangatnya di dalam tanah,” kata Daun dengan angkuhnya.
Maka pada hari itu berpindahlah mereka. Daun yang sebelumnya harus bertugas memasak makanan berganti tempat dan tugas. Tugasnya sekarang adalah mencari makanan.
Hari pertama berlangsung dengan tidak ada masalah.
“Alaah! Kalau tugas yang seperti ini keciiiiill!” kata Daun sombong. “Lihat aku berhasil mengumpulkan banyak makanan.”
Hari kedua, tidak jauh berbeda dengan hari pertama. Tetapi pada hari ketiga, Daun ,ulai menghadapi sedikit masalah. Dia bertemu dengan batu yang besar dan keras.
“Aduh! Aduh! Aku tidak bisa menembusnya. Aku tidak bisa melewatinya. Ah aku coba ke kiri saja!”
Daun berkelit. Dia berusaha menghindari batu besar yang keras. Tetapi itu pun tidak bisa dilakukannya. Dia tidak selincah dan segesit Akar. Tidak hanya piawai menembus tanah-tanah yang berpasir dan berbatu kerikil. Dia pun mahir dan mudas menembus batu sekeras apa pun.
“Aduh! Aduh! Aku tidak bisa menembus batu ini!” keluh Daun saat menemui batu besar yang lain.
Batang mulai berteriak-teriak memperingatkan: “Oiiii! Sudah saatnya mendapat makanan. Mana makanannya?”
Akar yang berada di atas dan yang sudah menggantikan posisi Daun menyahut, “Belum ada kiriman makanan. Makanya aku tidak bisa memasak.”
Wow! Akibatnya, batang-batang mulai kelaparan. Tidak ada makanan yang bisa dimakan. Makanya, perlahan-lahan daun-daun yang ada mulai menguning. Bahkan ada yang mulai berguguran.
Di sisi lain . . . .
“Aduuuh . . Aku tidak bisa besar. Aku tidak ada makanan, makanya aku tidak bisa besar,” jerit buah Mangga yang masih “pentil-pentil”. Dia pun kelihatan layu. Dan sebagian yang lain jatuh berguguran.
“Aduuuuh aku sudah tak kuat. Aku perlu makan! Kalau tidak aku akan roboh!” rintih Batang.
Ketika matahari mulai terbenam. Terang matahari digantikan temaram bulan di senja hari. Dan malam pun merambat naik.
Sementara itu, Daun menunduk tepekur. Dari matanya menetes air bening. Daun menangis.
“Teman-teman maafkan aku. Aku tidak sanggup. Aku tidak mampu,” suara serak keluar dari kerongkongan Daun.
Hati Akar dan Batang iba. Mereka pun tak kuasa menahan air mata.
“Maafkan aku teman-teman. Karena aku iri pada Akar membuat kalian semua menerima akibatnya. Sekali lagi maafkan aku,” pecahlah tangis Daun memecah keheningan malam.
“Sekarang bagaimana sahabat,” tanya Batang kepada Daun.
“Aku, aku, aku . . . mau kembali lagi. Aku mau melakukan tugasku yang semula,” pinta Daun memelas.
“Ya. Itulah yang dimaui Tuhan. Tuhan menciptakan demikian, pastilah baik buat kita,” hibur Batang, “Bagaimana sahabatku Akar? Apakah engkau bersedia kembali lagi?”
“Saya ini hanyalah sekadar melakukan apa yang ditugaskan kepada saya. Kalau memang sahabatku Daun ingin kembali lagi ke tugas yang semula, aku tidak keberatan,” kata Akar ikhlas.
Akar dan Daun berjabatan tangan. Begitu jabat tangan itu terlepas, mereka melanjutkan berpelukan.
“Maafkan aku ya Akar. Kamu benar-benar sahabat yang baik,” kata Daun dalam isak tangisnya.
Maka mulai malam itu, Daun bertugas kembali untuk memasak makanan. Akar mencari makanan di bawah tanah. Dan Batang yang mendistribusikan makanan yang sudah dimasak Daun. Mereka lakukan itu dengan sukacita dan bergembira.
Pohon Mangga yang mulai meranggas itu kembali mengeluarkan daun-daun mungil yang hijau segar. Semakin banyak dan semakin rimbun.
Tak lama kemudian mulai muncul putik-putik bunga. Tidak lama setelah itu dia akan berubah menjadi buah-buah mangga yang manis dan segar.

Metode Pengajaran
a. Gaya penyampaian:
Cerita ini disampaikan kepada murid dengan gaya dan bahasa jenaka, khususnya pada saat terjadi konflik antara Daun, Mangga, Akar, dan Batang.
Ketika Daun merasa bersalah dan mengakui kesalahannya, sampaikan cerita ini dengan mimik haru dan memelas.
Pada penutup cerita, baca kembali ayat emas: Yakobus 3:16, kemudian berikan tekanan yang menjadi pesan Alkitab untuk kehidupan sehari-hari para murid/siswa.

b. Media yang dipakai
1. Gambar Pohon yang rindang.
2. Rumah yang ada halamannya.
3. Gambar Daun, Batang, dan Akar yang diberi mata dan kaki.
Buatlah gambar-gambar tersebut di kertas karton atau styrofoam.

c. Manfaat Lain
Cerita ini di samping mengajarkan kepada anak-anak agar tidak iri hati, sombong, tidak toleran, dan tidak mementingkan diri sendiri, juga bisa digunakan untuk mengingat-ingat pelajaran di sekolah.
1. Proses Fotosintesis
2. Proses Perjalanan Makanan
3. Proses Mencari Makanan
Sisipkan tambahan info ini di tengah-tengah cerita. Ada baiknya tidak menyampaikan info ini secara langsung, melainkan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
Misal: Ketika daun memasak makanan, di dalam Ilmu Pengetahuan Alam disebut dengan apa? Makanan dikirimkan ke daun dari akar atau makanan dikirimkan dari daun ke cabang-cabang melalui apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar